Text
HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASA TUBUH (IMT) TERHADAP PENINGKATAN KEJADIAN GANGGUAN MENSTRUASI PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MATARAM
ABSTRAK
Hubungan Antara Indeks Masa Tubuh (IMT) Terhadap Peningkatan
Kejadian Gangguan Menstruasi Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Dan
Ilmu Kesehatan Universitas Mataram
Shofia Kadarisma, Muhammad Freddy Candra Sitepu, Bayu Tirta Dirja
Latar Belakang: Menstruasi adalah proses fisiologis yang terjadi secara berkala
pada wanita sebagai bagian dari sistem reproduksi. Siklus menstruasi yang normal
mencerminkan keseimbangan hormonal dan kesehatan reproduksi yang optimal.
Namun, keteraturan siklus menstruasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor,
salah satunya Indeks Massa Tubuh (IMT), yang berfungsi sebagai indikator status
gizi berdasarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan. Ketidakseimbangan
IMT, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi, berpotensi mengganggu regulasi
hormon reproduksi, yang dapat meningkatkan risiko gangguan menstruasi.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara Indeks
Masa Tubuh (IMT) dengan peningkatan kejadian gangguan menstruasi di
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram
Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan
cross-sectional. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner terkait siklus
menstruasi selama enam bulan terakhir serta pengukuran berat badan dan tinggi
badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT). Teknik pengambilan
sampel menggunakan metode non-probability sampling dengan pendekatan
simple random sampling. Kriteria inklusi meliputi mahasiswi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan berusia 18?24 tahun yang tidak memiliki riwayat
penyakit reproduksi dan bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi mencakup
amenore, penyakit genetik, gangguan hormonal, penyakit kronis, riwayat kelainan
atau operasi genetalia interna/eksterna, gangguan psikiatri, penggunaan obat
hormonal, serta ketidaksediaan menjadi responden. Data dianalisis menggunakan
uji hipotesis chi-square dan uji koefisien kontingensi
Hasil: Sebanyak 158 responden memnuhi kriteri inklusi dalam penelitian ini.
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan IMT <
30 sebanyak 155 orang (98,1%), sedangkan responden dengan IMT ? 30 hanya 3
orang (1,9%). Sebagian besar responden tidak mengalami gangguan menstruasi
sebanyak 108 orang (68,4%), dan 50 orang (31,6%) mengalami gangguan
menstruasi. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji hipotesis chi-square
dan uji koefisien kontingensi didapatkan p-value 0,03 (p < 0,05) dan nilai (r = 0,2)
yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Masa
Tubuh (IMT) dengan kejadian gangguan menstruasi dengan kekuatan hubungan
yang rendah pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Mataram.
Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara Indeks Masa Tubuh (IMT)
dengan gangguan menstruasi pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Mataram.
Kata Kunci: Indeks Masa Tubuh (IMT), Gangguan Menstruasi, Siklus
Menstruasi, Mahasiswiviii
ABSTRACT
Relationship Between Body Mass Index (BMI) and the Increased Incidence
of Menstrual Disorders in Students of the Faculty of Medicine and Health
Sciences, Universitas Mataram
Shofia Kadarisma, Muhammad Freddy Candra Sitepu, Bayu Tirta Dirja
Background: Menstruation is a physiological process that occurs periodically in
women as part of the reproductive system. A normal menstrual cycle reflects
optimal hormonal balance and reproductive health. However, the regularity of the
menstruasl cycle can be influenced by various factors, one of which is Body Mass
Index (BMI), which functions as an indicator of nutritional status based on a
comparison of body weight and height. An imbalanced BMI, whether excessively
high or low, has the potential to disrupt the regulation of reproductive hormones,
which can increase the risk of menstrual disorder.
Objective: This study aims to analyze the relationship between Body Mass Index
(BMI) and the increased incidence of menstrual disorders students of the Faculty
of Medicine and Health Sciences, Universitas Mataram.
Methods: this study is an observational analytical study with a cross-sectional
approach. Data were collected by filling out a questionnaire related to the
menstrual cycle for the past six months and measuring body weight and height to
determine Body Mass Index (BMI). The sampling thecnique used a nonprobability sampling method with a simple random sampling approach. Inclusion
criteria included female students of the Faculty of Medicine and Health Sciences
aged 18-24 years who had no history of reproductive disease and were willing to
be respondents. Exclusion criteriaincluded amenorrhea, genetic disease,
hormonaldisorders, chronicdisease, historyof internal/external genetalia
abnormalities or surgery, psychiatric disorders, use of hormonal drugs, and
unwillingness to be respondents. Data were analyzed using the chi-square
hypothesis test and the contingency coefficient test.
Results: A total of 158 respondents met the inclusion criteria in this study. The
results of descriptive analysis showed that the majority of respondents with BMI
Tidak tersedia versi lain