Text
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA MAHASISWA KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MATARAM
ABSTRAK
Hubungan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Anemia Pada Mahasiswa Program
Studi Kedokteran Universitas Mataram
Asti Ananda, Rifana Cholidah, Emmy Amalia
Latar Belakang: Anemia masih menjadi masalah kesehatan global dengan
prevalensi mencapai 1,32 miliar jiwa (WHO, 2021). Di Indonesia, prevalensi
anemia pada remaja mencapai 22,7%, lebih tinggi dari standar WHO sebesar
20%. Kondisi ini juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, di mana 57,1%
remaja usia 10?18 tahun mengalami anemia (Dinkes NTB, 2023). Mahasiswa
kedokteran termasuk kelompok rentan karena beban akademik dan tekanan mental
yang dapat memengaruhi pola makan dan menurunkan asupan zat gizi, termasuk
zat besi yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat
besi terbukti berhubungan dengan gangguan konsentrasi, penurunan fungsi
kognitif, dan penurunan performa akademik. Berdasarkan tingginya prevalensi
anemia dan pentingnya zat besi bagi mahasiswa, penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui hubungan asupan zat besi dengan kejadian anemia pada mahasiswa
kedokteran.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional
dilakukan pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Universitas Mataram.
Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling menghasilkan 79
responden. Pola makan dinilai menggunakan food record 24 jam selama 3 hari
melihat asupan besi harian dan di klasifikasikan menjadi asupan zat besi sesuai
dan tidak sesuai menurut AKG. Kadar Hemoglobin dinilai menggunakan alat Easy
Touch dan diklasifikasikan sebagai anemia atau tidak anemia berdasarkan kriteria
WHO.
Hasil: Sebagian besar responden memiliki asupan zat besi tidak sesuai standar
(91,25%), baik laki-laki maupun perempuan. Angka kejadian anemia ditemukan
sebesar 75% pada laki-laki dan 91,7% pada perempuan, dengan
total 87,5%responden mengalami anemia. Uji Fisher menunjukkan adanya
hubungan signifikan antara asupan zat besi dengan kejadian anemia pada
mahasiswa (p = 0,032; OR = 21; 95% CI: 1,4?314), mahasiswi (p = 0,016; OR =
36; 95% CI: 2,5?518), dan seluruh responden (p < 0,001; OR = 34; 95% CI: 5,2?
222). Responden dengan asupan zat besi tidak sesuai memiliki risiko anemia
hingga 34 kali lebih besar.
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara asupan zat besi dengan
kejadian anemia pada mahasiswa programm studi kedokteran Universitas
Mataram.
Kata kunci: Asupan zat besi, anemia, mahasiswa, hemoglobin.vii
ABSTRACT
The Relationship Between Iron Intake and Anemia Among Medical Students at
the University of Mataram
Asti Ananda, Rifana Cholidah, Emmy Amalia
Background: Anemia remains a global health problem, with a prevalence
reaching 1.32 billion people (WHO, 2021). In Indonesia, the prevalence of anemia
among adolescents is 22.7%, which is higher than the WHO standard of 20%. A
similar condition is observed in West Nusa Tenggara Province, where 57.1% of
adolescents aged 10?18 years are anemic (NTB Health Office, 2023). Medical
students are considered a vulnerable group due to high academic demands and
mental stress, which may affect dietary habits and lead to inadequate nutrient
intake, including iron an essential mineral for hemoglobin synthesis. Iron
deficiency has been shown to be associated with impaired concentration, reduced
cognitive function, and decreased academic performance. Given the high
prevalence of anemia and the essential role of iron, this study aimed to determine
the relationship between iron intake and anemia among medical students.
Methods: This analytical observational study used a cross-sectional design and
was conducted among medical students at the Faculty of Medicine, University of
Mataram. Samples were selected using purposive sampling, resulting in 79
respondents. Dietary intake was assessed using a 3-day 24-hour food record to
determine daily iron intake, which was classified as adequate or inadequate based
on the Indonesian Recommended Dietary Allowance (RDA). Hemoglobin levels
were measured using the Easy Touch device and categorized as anemic or nonanemic according to WHO criteria.
Resulds: Most respondents had inadequate iron intake (91.25%), both male and
female. The prevalence of anemia was 75% among male students and 91.7%
among female students, with an overall prevalence of 87.5%. Fisher?s Exact Test
showed a significant relationship between iron intake and anemia among male
students (p = 0.032; OR = 21; 95% CI: 1.4?314), female students (p = 0.016; OR
= 36; 95% CI: 2.5?518), and all respondents combined (p < 0.001; OR = 34; 95%
CI: 5.2?222). Students with inadequate iron intake had up to 34 times higher risk
of developing anemia.
Conclusion: There is a significant association between iron intake and anemia
among medical students at the University of Mataram.
Kata kunci: Iron intake, anemia, medical students, hemoglobin.
Tidak tersedia versi lain