Text
STUDI ETNOMEDISIN RAMUAN OBAT PENYAKIT INFEKSI PARASIT DAN VIRUS DI KECAMATAN GERUNG LOMBOK BARAT
ABSTRAK
Pengobatan tradisional masih dipraktikkan oleh belian menggunakan
tanaman obat di Kecamatan Gerung, Lombok Barat, khususnya untuk menangani
penyakit infeksi parasit dan virus seperti cacar air, cacingan, chikungunya,
keputihan, dan malaria. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan
berpotensi hilang karena minimnya dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi karakteristik belian, komposisi, cara pembuatan dan penggunaan
ramuan, serta menganalisis nilai penting tumbuhan menggunakan Cultural
Significance Index (CSI) dan Fidelity Level (FL). Penelitian dilakukan secara
etnografi dengan teknik snowball sampling terhadap 6 belian yang memenuhi
kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, literatur,
dokumentasi, observasi dan dianalisis secara kualitatif serta kuantitatif. Hasil
penelitian menunjukkan terdapat 27 spesies tumbuhan dari 17 famili yang
digunakan dalam 64 ramuan obat. Cara pembuatan ramuan yaitu dengan cara
ditumbuk, direbus, dan dijemur. Cara penggunaan ramuan yaitu dengan cara
dibasuh, dioles, ditempel, disembur dan diminum. Spesies yang memiliki nilai CSI
tertinggi, yaitu sirih (Piper battle L.) dan kunyit (Curcuma longa L.) dengan nilai
CSI berturut-turut 32 dan 20,48. Nilai FL berkisar antara 60%-73,5%. Nilai FL
tertinggi untuk cacar air yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dan
meniran (Phyllanthus niruri L.) sebesar 73,5%, untuk cacingan yaitu sirih (Piper
battle L.) sebesar 66,67%, untuk chikungunya yaitu kunyit (Curcuma longa L.) dan
kencur (Kaempferia galanga L) berturut-turut sebesar 66,67% dan 60%, serta untuk
keputihan dan malaria yaitu meniran (Phyllanthus niruri L.) dan temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb) sebesar 73,5%.
Kata Kunci: pengobatan tradisional, belian, penyakit infeksi parasit dan virus,
CSI, FL.viii
ABSTRACT
Traditional medicine is still practiced by belian using medicinal plants in
Gerung District, West Lombok, especially to treat parasitic and viral infections such
as chickenpox, worms, chikungunya, vaginal discharge, and malaria. This
knowledge is passed down from generation to generation and is at risk of being lost
due to a lack of documentation. This study aims to identify the characteristics of
belian, its composition, how to make and use the concoctions, and to analyze the
importance of the plants using the Cultural Significance Index (CSI) and Fidelity
Level (FL). The study was conducted ethnographically using a snowball sampling
technique on six belian that met the inclusion criteria. Data were collected through
semi-structured interviews, literature, documentation, observation and analyzed
qualitatively and quantitatively. The results showed that there were 27 plant species
from 17 families used in 64 medicinal concoctions. The concoctions were prepared
by pounding, boiling, and drying in the sun. The concoctions were used by washing,
rubbing, applying, spraying, and drinking. The highest CSI values are betel (Piper
battle L.) and turmeric (Curcuma longa L.) with CSI values of 32 and 20.48,
respectively. The highest FL value for chickenpox is temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) and meniran (Phyllanthus niruri L.) at 73.5%, for worms is
betel (Piper battle L.) at 66.67%, for chikungunya is turmeric (Curcuma longa L.)
and galangal (Kaempferia galanga L) at 66.67% and 60%, and the highest for
vaginal discharge and malaria is meniran (Phyllanthus niruri L.) and temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb) at 73.5%.
Keywords: Traditional medicine, belian, parasitic and viral infections, CSI, F
Tidak tersedia versi lain